Ramallah (delapantoto) — Di tengah deru konflik yang tak kunjung reda, satu kekhawatiran menguat dari para pekerja kemanusiaan: ruang untuk menolong warga sipil kian menyempit. Palestine Liberation Organization (PLO) menyatakan bahwa aksi militer Israel yang dinilai membabi buta telah mengancam keberlangsungan tugas UNRWA di wilayah Palestina—lembaga yang selama puluhan tahun menjadi penopang hidup jutaan pengungsi.
Bagi keluarga pengungsi, ancaman ini bukan isu diplomatik semata. Ia berarti makanan yang tertunda, layanan kesehatan yang terhenti, dan sekolah yang terpaksa ditutup.
UNRWA di Garis Depan Kemanusiaan
UNRWA menjalankan mandat vital: pendidikan, layanan kesehatan primer, bantuan pangan, dan perlindungan bagi pengungsi Palestina di Palestina. Ketika akses dibatasi dan fasilitas rusak, dampaknya langsung terasa pada warga sipil—terutama anak-anak dan lansia.
PLO menilai, serangan dan pembatasan akses telah menciptakan risiko serius bagi staf kemanusiaan dan penerima bantuan. Netralitas dan keselamatan pekerja kemanusiaan, tegas PLO, harus dihormati sesuai hukum internasional.
Hukum Humaniter dan Kewajiban Perlindungan
Dalam kerangka hukum humaniter internasional, pihak bertikai berkewajiban melindungi warga sipil serta memfasilitasi bantuan kemanusiaan yang cepat dan tanpa hambatan. Serangan terhadap fasilitas sipil atau pembatasan akses bantuan berpotensi melanggar prinsip-prinsip dasar tersebut.
PLO menyerukan komunitas internasional untuk menjamin perlindungan UNRWA dan memastikan koridor kemanusiaan tetap terbuka—bukan sekadar pernyataan, melainkan tindakan nyata di lapangan.
Warga Sipil di Tengah Ketidakpastian
Di kamp-kamp pengungsi, ketidakpastian menjadi rutinitas baru. Seorang ibu pengungsi berkata lirih, “Kami hanya menunggu bantuan berikutnya.” Kalimat sederhana itu merangkum ketergantungan yang rapuh—dan betapa besar risikonya jika layanan terhenti.
Sekolah UNRWA yang biasanya menjadi ruang aman anak-anak, terpaksa ditutup sementara. Klinik menghadapi keterbatasan obat dan listrik. Kemanusiaan bekerja dengan napas tertahan.
Keamanan Publik dan Stabilitas Regional
Ancaman terhadap operasi UNRWA tidak hanya berdampak kemanusiaan, tetapi juga keamanan publik. Ketika kebutuhan dasar tidak terpenuhi, risiko krisis sosial meningkat—memperpanjang lingkaran kekerasan dan ketidakstabilan.
PLO menekankan bahwa melindungi kerja kemanusiaan adalah investasi stabilitas. Tanpa itu, penderitaan sipil berpotensi melebar dan sulit dipulihkan.
Seruan untuk Tindakan
PLO mendesak negara-negara dan lembaga internasional untuk:
-
Menjamin keselamatan staf dan fasilitas UNRWA,
-
Membuka akses bantuan tanpa hambatan,
-
Menegakkan akuntabilitas atas dugaan pelanggaran hukum humaniter,
-
Memastikan pendanaan berkelanjutan agar layanan tidak terputus.
Seruan ini, kata PLO, berangkat dari satu tujuan: menyelamatkan nyawa dan martabat manusia.
Menjaga Ruang Kemanusiaan
Di tengah konflik yang mempolarisasi, ruang kemanusiaan harus tetap berdiri—netral, aman, dan berfungsi. Ketika PLO memperingatkan ancaman terhadap UNRWA, yang dipertaruhkan bukan hanya mandat lembaga, tetapi hak warga sipil untuk bertahan hidup.
Pada akhirnya, kemanusiaan bukan posisi politik. Ia adalah kewajiban bersama—yang harus dijaga, bahkan ketika segalanya terasa runtuh.