Tapanuli Selatan, Sumatera Utara (initogel) — Di hamparan tanah yang sebelumnya ditumbuhi semak dan sisa material bencana, suara alat berat dan langkah sepatu lars kini bergantian terdengar. Personel Korps Marinir bergerak sejak pagi, mempersiapkan lahan hunian sementara bagi warga terdampak bencana di Tapanuli Selatan. Pekerjaan ini dilakukan dengan satu tujuan sederhana namun krusial: memastikan warga memiliki tempat tinggal yang aman dan layak, meski sementara.
Bagi keluarga yang kehilangan rumah atau harus mengungsi, hunian sementara bukan sekadar bangunan darurat. Ia adalah ruang untuk beristirahat, memulihkan diri, dan menata ulang harapan.
Dari Tanah Kosong Menjadi Ruang Aman
Persiapan lahan dilakukan secara bertahap—pembersihan area, perataan tanah, hingga penataan akses agar kendaraan logistik dapat masuk. Marinir bekerja berdampingan dengan aparat setempat dan relawan, menyesuaikan desain hunian dengan kondisi lingkungan dan kebutuhan warga.
“Kami ingin memastikan tempat ini aman, tidak rawan banjir susulan, dan mudah dijangkau,” ujar seorang perwira Marinir di lokasi. Setiap keputusan teknis dipertimbangkan dengan hati-hati, karena menyangkut keselamatan penghuninya.
Hadir di Saat Genting
Kehadiran Marinir di Tapanuli Selatan mencerminkan peran pertahanan yang berpihak pada kemanusiaan. Dalam situasi darurat, kekuatan militer digunakan untuk membuka akses, mempercepat pekerjaan berat, dan menjaga ketertiban—agar bantuan tiba tepat waktu.
Warga yang menyaksikan persiapan lahan tampak lega. “Setidaknya kami tahu akan punya tempat,” kata Siti, ibu dua anak yang masih tinggal di pengungsian. “Anak-anak bisa tidur lebih tenang.”
Hunian Sementara, Martabat Tetap Dijaga
Hunian sementara dirancang untuk memenuhi kebutuhan dasar: ruang tidur, ventilasi yang cukup, sanitasi, dan jarak aman antarunit. Prinsipnya sederhana—darurat, namun bermartabat. Anak-anak, lansia, dan kelompok rentan menjadi prioritas dalam penataan.
Marinir juga memperhatikan akses ke fasilitas umum sementara seperti pos kesehatan, dapur umum, dan ruang ibadah. “Pemulihan bukan hanya fisik, tapi juga mental,” ujar seorang relawan yang ikut mendampingi.
Sinergi di Lapangan
Persiapan lahan dilakukan melalui koordinasi lintas pihak—pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dan unsur terkait. Sinergi ini mempercepat proses dan memastikan hunian sesuai kebutuhan lokal.
“Setiap daerah punya karakter,” kata seorang aparat desa. “Masukan warga penting agar hunian nyaman.”
Lebih dari Pekerjaan Fisik
Di sela pekerjaan, Marinir menyapa warga, membantu memindahkan barang, dan mengatur lalu lintas logistik. Gestur kecil ini memberi rasa aman dan kepercayaan. Di mata warga, seragam loreng bukan hanya simbol ketegasan, tetapi juga kehadiran yang menenangkan.
Seorang anak kecil melambaikan tangan saat alat berat berhenti sejenak. “Tentara bangun rumah,” katanya polos. Kalimat itu sederhana, namun menyimpan makna besar.
Menjembatani Darurat dan Pemulihan
Hunian sementara adalah jembatan—menghubungkan masa darurat dengan pemulihan permanen. Di tempat inilah keluarga mulai menata rutinitas: memasak sederhana, belajar, dan bekerja kembali sebisanya.
Korps Marinir menegaskan komitmen untuk terus mendampingi hingga fase darurat terlewati dan warga siap melangkah ke solusi jangka panjang.
Harapan yang Mulai Berpijak
Saat matahari condong ke barat, lahan yang semula kosong kini mulai terbentuk. Garis-garis penataan terlihat jelas. Bagi warga Tapanuli Selatan, ini adalah tanda awal—bahwa di tengah bencana, negara hadir dan bekerja.
Hunian sementara mungkin tidak sempurna. Namun di atas tanah yang dipersiapkan dengan kepedulian, harapan menemukan pijakannya kembali. Dan bersama Korps Marinir, warga melangkah pelan menuju hari esok yang lebih aman.